The Haqqani Fellowship

Syekh Hisyam Kabbani QS
Kuala Lumpur, 15 Agustus 2008
(dari buku Traces of The Light)

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil anbiyaai wal mursaliin, Sayyidinaa Muhammadiw wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

Kini kita sangat menyukai daging. Kita tidak lagi mengejar yang lainnya—apalagi sekarang mereka mengajarkan kepada kita, “Jangan makan daging hewan biasa, pergilah dan makanlah Kentucky Fried Chicken, makanlah di McDonald, makanlah Burger King.” Mereka membentuk pikiran kita, mengarahkan apa yang harus kita makan. Dan kalian tidak mengetahui siapa yang memasak daging itu—apakah orang itu mempunyai wudu atau tidak, apakah orang itu sedang marah atau tidak, apakah orang itu orang yang baik atau tidak—semua hal ini akan terefleksi atau terpantul ke dalam makanannya. Itu akan menjadi racun di dalam makanan tersebut. Ketika kalian memakannya, ia akan meracuni kalian. Itulah sebabnya sekarang banyak orang yang teracuni—bukan oleh racun—tetapi teracuni oleh karakter buruk, karena ia terefleksi melalui makanan mereka. Semua energi negatif ini berasal dari orang yang memasaknya—di dalam daging itu sendiri tidak ada energi negatifnya, tetapi karakter buruk orang yang memasaknya akan terefleksi ke dalam makanan yang kita makan di restoran.

Itulah sebabnya banyak syekh yang menasihati murid-muridnya agar tidak makan di restoran, karena mereka tidak ingin murid-muridnya mendapatkan refleksi buruk dari makanannya. Karena sebagaimana yang Mawlana katakan, Grandsyekh (semoga Allah memberkati ruhnya), mengatakan, “Aku tidak senang bila ada di antara kalian yang makan selain dari apa yang kalian masak atau istri kalian masak.” Dan mereka harus mempunyai wudu, dan salat 2 rakaat, baru kemudian masak—karena dengan cara inilah bukannya kalian meracuni makanan yang kalian makan melalui karakter buruk kalian—bahkan kalian akan dihiasi dengan refleksi yang baik dari wudu dan salat kalian yang kalian lakukan sebagai niat untuk memasak. Allah SWT akan menjadikan makanan itu, sebagaimana wudu membersihkan tubuh—makanan itu pun akan membersihkan jiwa kalian.[]

Tags: makanan, wudu

Views: 11

Reply to This

Replies to This Discussion

Is it possible to translate into English? Thanks, alf salaams, Sajida
Yeah ..I wish I could understand too
From Mawlana Shaykh Hisham Kabbani (q)'s Suhba
Kuala Lumpur, Malaysia
Aug 15, 2008

It’s not like today, we run after meat. We don’t run after anything else—especially now when they are teaching us, “Don’t eat [normal] animal meat anymore—go and eat Kentucky Fried Chicken, go and eat McDonald’s, go and eat Burger King.” They are putting in our minds what they want us to eat. And you don’t know who cooked that meat—if that person has wudu or no wudu, if that person was angry or not angry, if that person was a good person or not—all of these things will leave a reflection in the food. It will become poison in the food. When you eat it, it poisons you. That’s why many people are poisoned—not poisoned by poison—but poisoned by bad characteristics, because it’s reflected through their food. All this bad energy that comes from the cook who is cooking the food—there is no bad energy in the meat itself, but it will reflect his bad character inside the food that we are eating in restaurants.

That’s why many shuyukh advise their students not to eat in restaurants, because they don’t want them to have that bad reflection of food. Because it depends, as Mawlana said, may Allah  bless his soul, Grandshaykh—he said, “I never liked anyone of you to eat other than the food that he cooks or that his wife cooks, and they must have full wudu, and pray two raka’ats, and then cook—because by this way instead of poisonous food you are eating—means poisonous bad characteristics you are getting—you will be dressed with good reflections of the ablution and the two raka’ats that you have done as a niyyah for you to cook—Allah  will turn that food, as ablution is clean to the body, that food will be cleaning the soul, the spirit.”

Reply to Discussion

RSS

Shah Naqshband on Fellowship

The Imam of the Naqshbandi Order said, "طريقتنا الصحبة والخير في الجمعية - Tariqatuna as-suhbah wa 'l-khayru fi 'l- jam`iyyah" - “Our way is fellowship, and the goodness is in the gathering”.

Definition of Fellowship:

1. The companionship of individuals in a pleasant atmosphere.

2. A close association of friends sharing similar interests.

Islamic Calendar


Sufi Live Broadcast Status

SufiLive.com live broadcast status

Badge

Loading…

© 2012   Created by Sons of Habibi.

Badges  |  Report an Issue  |  Terms of Service